Saturday, May 10, 2008
SHOHIHKAH HADITS KEUTAMAAN BERSURBAN?
Oleh : Alfaqir Rudi Iswadi, S.Sos.I

Banyak hadits-hadits tentang keutamaan bersurban yang tersebar dikalangan kaum muslimin. Diantaranya banyak tersebar di kitab-kitab sufiyah.

Disini saya tidak melarang anda mengenakan surban, akan tetapi saya hanya mengutip penjelasan-penjelasan para Ulama Hadits tentang derajat hadits keutamaan bersurban. Sehingga kita mengetahui kedhoifannya untuk kemudian tidak menggunakannya sebagai dasar hukum bersurban, serta tidak menyebarkan hadits-hadits yang dhoif bahkan tidak ada asalnya sama sekali. Adapun hadits-hadits tersebut adalah sebagaimana berikut :

Hadits dari Jabir Radhiallohu ‘anhu, Telah bersabda Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam,

ركعتان بعمامة خير من سبعين ركعة بلا عمامة

“Dua rakaat sholat dengan memakai surban lebih baik dari pada sholat 70 rakaat tanpa memakai surban”

Hadits ini diriwayatkan oleh As-Suyuti dalam Jami’us Shoghir, Ad-Dailami dalam Musnad Al-firdaus, Al-Munawiy dalam Syarhul Jami’

As-Syeikh Nashiruddin Al-Albani -rahimahullohu ta’ala- berkata dalam Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoifah I/251, “Hadits ini Maudhu’ / Palsu” Dalam periwayatannya ada seseorang bernama Thoriq bin Abdurrahman, Imam Ad-Dzahabi telah menjelaskannya dalam kitab “Ad-Dhu’afa” beliau berkata, An-Nasa’i berkata: “Hadits ini tidak kuat”.

Sedangkan hadits serupa yang berasal dari periwayatan Muhammad bin Ajlan, Telah disebutkan oleh Al-Bukhary dalam kitab “Ad-Dhu’afa”, Al-Hakim berkata; “Dia sedikit hafalan”. As-Sakhawy berkata; “Hadits tersebut tidak dapat dipercaya”

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanyai tentang sebuah hadits yang diriwayatkan Suhail dari Abu Hurairah bahwa Rasululloh bersabda,

صلاة بعمامة أفضل من سبعين صلاة بغير عمامة

“Sholat dengan surban lebih baik daripada 70 sholat dengan tidak bersurban”

Maka Imam Ahmad menjawab, “Ini Penipuan, Ini Bathil”

Juga hadits yang berbunyi;

إن الله عز وجل و ملائكته يصلون على أصحاب العمائم يوم الجمعة

“Sesungguhnya Allah Azza wa jalla dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang memakai surban dihari jumat.”

Diriwayatkan oleh At-Thabrani dalam “Al-Kabir” Dan Abu Nu’aim, dalam Al-Hilyah 5/189-190 dari jalur Al-Ala’ bin Umar Al-Hanafi, dari Ayyub bin Mudrak dari Makhul dari Abu Darda’ secara marfu’.

Ibnul Jauzi dalam “Al-Maudhu’at” berkata, “Hadits ini tiada asalnya” Ayyub telah menyendiri dalam periwayatanya. Alhaitsami dalam “Majma 2/176″ menegaskan, Dalam periwayatanya ada Ayyub bin Mudrak yang dikatakan oleh Ibnu Ma’in, “bahwa ia Penipu.”

Asy-Syeikh Nashiruddin Al-AlBani berkata dalam Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhoifah 1/292, Hadits ini Madhu’.

Masih banyak lagi hadits-hadits serupa yang menceritakan tentang keutamaan sholat memakai surban, namun kesemua hadits itu dhoif bahkan kebanyakan hadits-hadits tersebut adalah palsu.

Selain itu, Kita memahami bahwa tidaklah mungkin hanya dengan sholat memakai surban dapat melebihi pahala sholat berjamaah. Padahal sebagaimana telah diketahui bahwa sholat berjamaah itu sunnat mu’akkad, bahkan pendapat yang kuat adalah bahwa sholat berjamaah adalah wajib bagi setiap laki-laki sebagaimana hadits tentang dialog Rasululloh shallallohu ‘alaihi wasallam dengan Ibnu Ummi Maktum.

Jika benar hadits-hadits tentang keutamaan bersurban itu berasal dari Nabi Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam, tentunya orang-orang akan mencukupi sholat dirumah dengan memakai surban dan tidak perlu menghadiri sholat jamaah karena toh pahalanya lebih besar dari pada sholat berjamaah.

Asy-Syeikh Nashiruddin Al-AlBany -rahimahullohu ta’ala- mengatakan,

و الراجح أنها من سنن العادة لا من سنن العبادة
“Dan pendapat yang rojih/kuat, Sesungguhnya ianya (surban) adalah termasuk adat (orang arab) bukan ibadat”.

[Silsilah Al-Ahadits Ad-Dhoifah: 1/253]

Penutup

Setelah mengetahui kedhoifan/kelemahan hadits-hadits keutamaan memakai surban, tentunya tidaklah dibenarkan seorang muslim menggunakan hadits dhoif tersebut dalam beramal. Hal ini dikarenakan bahwa hadits-hadits dhoif ada dalam posisi lemah, dan bagaimana mungkin kita bersandar pada sesuatu yang lemah ?

Sumber :
Silsilah Al-Ahadits Ad-dhoifah, Asy-Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany
posted by Abu Aqil Al-Atsy @ 4:52 PM  
Ibnu Taimiyah berkata:

“Ahlul Bid’ah itu tidak bersandar kepada Al Kitab (Al Qur’an) dan As Sunnah serta Atsar Salafus Shalih dari kalangan Shahabat maupun Tabi’in. Mereka hanya berpedoman dengan logika dan kaidah bahasa. Dan kamu akan temukan mereka itu tidak mau berpedoman dengan kitab-kitab tafsir yang ma’tsur (bersambung riwayat dan penukilannya). Mereka hanya berpegang dengan kitab-kitab adab (sastra dan tata bahasa) serta kitab-kitab ilmu kalam (filsafat dan logika). Kemudian dari sinilah mereka membawakan pendapat dan pemikiran mereka yang sesat.”

(Al Fatawa 7/119)

- Tafsir Ibnu Katsir
- Tafsir Thabariy
- Tafsir Qurthuby
- Tafsir As-Sa'adi
- Tafsir Muyassar
- Tafsir Baghawy


- Shohih Bukhary
- Shohih Muslim
- Shohih Ibn Khuzaimah
- Sunan An-Nasa'i
- Sunan Abu Daud
- Sunan At-Tirmidzi
- Sunan Ibnu Majah
- Sunan Ad-Darimi


- Al-Umm As-Syafi'ie
- Al-AdzkarAn-Nawawy
- Ar-Risalah As-Syafi'ie
- Al-Kafi Al-Hambali
- Al-Mughniy Ibn Qudamah
- Al-Muhala Ibn Hajm
- Amtsal filquran
- Al-Muwata' Imam Malik
- Fathul Bari
- Faidhul Qadir
- Ighotsatul Lahfan
- I'lamul Muwaqi'in
- Jala ul Afham Ibn Qayyim
- Jawabul Kafi
- Kasyful Khofa'
- Madarijus Salikin
- Majma' Zawaid
- Majmu' Fatawa
- Majmu' Syarah Muhadzab
- Mishbahul Munir
- Miftahu Daaris Sa'adah
- Mushtalahul Hadits
- Nailul Authar
- Nashbur Rayah
- Nihayah Ibn Atsir
- Qawaid Ibn Rajab
- Raudhotul Muhibbin
- Syarah AtThahawiyah
- Zadul Ma'ad


- Abu Tilmidzi
- Abu Salma
- Abdurrahman
- Abu Luqman
- Abu Maulid
- Abu Aqil
- Abu Umar
- Abu Husam
- Abdul Wahid
- Anas Fauzi
Silahkan Mengisi Buku Tamu:

 
Mesin Pencari
Mesin Pencarian Ahlussunnah, Silahkan Masukkan Kata yang Ingin Anda Cari:
About Me
Previous Post
Archives
Shoutbox
Belum Tersedia
Other things

Template Created
Template by


BLOGGER